Jumat, 13 Maret 2020

Resume Sinopsis


RESUME FILM “TAARE ZAMEEN PAR”




 Oleh : Arobi

            Film ini menceritakan tentang seorang anak yang bernama Ishaan Nandkishore Awasthi. Ishaan adalah seorang anak berumur delapan tahun yang sedang duduk dibangku kelas 3 sekolah dasar. Dia banyak merasa kesulitan dengan berbagai mata pelajaran dan dia sering mengalami kegagalan dalam ujian sekolahnya. Dengan segala kelemahan yang ada pada diri Ishaan, dia menjadi korban bullying oleh teman-temannya, bahhkan gurunya pun ada yang menghinanya.
            Ayah Ishaan, Nandkishore Awasthi adalah seorang eksekutif yang sibuk dan sukses. Ayahnya selalu mengharapkan Ishaan dapat melakukan yang terbaik seperti kakaknya yang sangat berprestasi di sekolah. Sedangkan ibunya, Maya Awasthi adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang akhirnya merasa sedih dan bingung karena merasa gagal mendidik dan membantu Ishaan menghadapi masalahnya (Disleksia). Ishaan memiliki seorang kakak yang bernama Yohaan, yang merupakan seorang pelajar yang sangat berprestasi dan selalu di bangga-banggakan kedua orang tuanya dibandingkan Ishaan.
            Ishaan merupakan seorang anak yang tidak bisa mengikuti kegiatan di sekolahnya dengan baik, dia di cap sebagai anak yang bodoh dan nakal. Tidak hanya itu, Ishaan juga memiliki kesulitan dalam membaca maupun menulis, dia kesulitan mengenal huruf misalnya sulit membedakan “huruf b” dengan “huruf d”. Dia juga susah membedakan suku kata yang bunyinya hamper sama, misalnya “Top” dengan “Pot”. Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf terbalik. Karena kekurangannya dia sering mendapatkan nilai buruk di sekolah dan tidak pernah mengerjakan PR sehingga para guru pun menghukumnya. Meski begitu, Ishaan memiliki kelebihan yaitu melukis.
            Pada puncaknya Ishaan dimasukkan ke asrama karena ketahuan bolos sekolah dan berjalan-jalan sendirian keliling kota. Namun tak ada perubahan berarti meskipun Ishaan telah pindah ke asrama. Dia bahkan sering menerima hukuman dari gurunya karena tidak bisa mengikuti aturan yang ada. Ishaan sebenarnya sudah berusaha namun semakin dia berusaha maka dia semakin bingung karena dia merasa huruf itu menari-nari di kepalanya. Karena tekanan yang dia terima dari guru dan ejekan dari teman-temannya, Ishaan pun tidak mau melukis lagi.
            Kemudian datang seorang guru kesenian pengganti sementara yang bernama Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan). Guru baru ini mempunyai cara mendidik yang baru, Ram membuat mereka berpikir keluar dari buku-buku dan imajinasi mereka. Setiap anak di kelasnya merespon dengan antusias yang besar kecuali Ishaan. Ram kemudian berusaha untuk memahami Ishaan dan masalah-masalahnya. Ram menyadari bahwa Ishaan menderita penyakit disleksia, sebuah kesulitan dalam membaca, menulis dan menghitung. Ram menyadari kondisi Ishaan karena dulunya ia pun mengalami gejala disleksia. Padahal, sebenarnya seseorang yang mengalami disleksia memiliki kemampuan intelegensi yang tinggi. Jika tak diasah dengan kesabaran dan keterampilan dalam mendidik, maka sang anak akan terus terjerat dalam ketidaktahuan dalam membaca dan menulis. Ia mecontohkan tokoh-tokoh dunia yang mengalami disleksia sehingga melejitkan semangat Ishaan dalam belajar. Dengan waktu, kesabaran dan perawatan Ram berhasil dalam mendorong tingkat kepercayaan Ishaan. Dia membantu Ishaan dalam mengatasi masalah pelajarannya dan kembali menemukan kepercayaan yang hilang. Ia mampu mengajak anak didiknya itu memahami dan menyeberangi lautan ilmu dengan proses yang menyenangkan.
            Ram pulalah yang menyadarkan orang tua Ishaan bahwa anaknya mengalami disleksia. Setelah menemui orang tua Ishaan, Ram kemudian memohon kepada Kepala Sekolah (asrama) agar Ishaan diberikan kemudahan dan tidak dikeluarkan. Dimana ia nantinya yang akan membantu Ishaan agar dapat membaca dan juga menulis. Kemudian untuk meningkatkan kepercayaan diri Ishaan dan memperlihatkan kelebihan Ishaan dalam melukis, Ram mengadakan lomba melukis bagi guru dan murid di asrama tersebut.
            Ishaan keluar sebagai pemenang. Hasil lukisannya dan juga lukisan Nikumbh dipakai sebagai sampul buku tahunan sekolah tersebut. Selain itu di akhir sekolah, nilai-nilai Ishaan pun tidak lagi di bawah rata-rata. Ia sudah mampu bersaing dengan teman-temannya.

KESAN POSITIF & NEGATIF DARI FILM
Kesan positif yang ditangkap dari film ini adalah film ini mampu menceritakan lika-liku kehidupan seorang anak penderita disleksia dengan segala macam masalah lainnya. Selain itu, dalam film ini pun kita diperlihatkan cara seorang guru yang berusaha untuk mengenal siswa yang mengalami kesulitan belajar lebih dalam. Ram telah melakukan berbagai macam cara untuk membuat orang lain yang berada di sekitar Ishaan memahami kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri Ishaan, terutama ke keluarga Ishaan (orangtua dan kakaknya). Ram juga melakukan berbagai cara kreatif ketika dia mengajar di kelas. Membuat para penonton menjadi terharu dan terbawa emosinya selama menonton film ini. Selain itu, dari film ini diketahui bahwa hal mendasar yang harus dilakukan oleh orang-orang terdekat anak yang mengalami disleksia adalah dengan mendekati mereka, merangkul mereka, agar mereka tetap merasa disayangi dan tidak kehilangan rasa percaya diri mereka.
Sedangkan kesan negatif yang ada adalah di beberapa adegan terasa terlalu lama dan bertele-tele, sehingga menimbulkan sedikit kejenuhan.

PESAN MORAL 
Film ini mengandung pesan moral yang sangat kuat. Dalam film ini kita bisa lihat bahwa peran orang tua sangat penting dalam masa tumbuh kembang anak. Peran guru pun tak kalah pentingnya sebagai orang tua kedua bagi anak. Setiap anak pastilah berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mereka memiliki kemampuan, bakat, dan impian yang berbeda beda. Sebagai orang tua hendaknya mendukung agar anak dapat berkembang menurut bakat alami yang ada dalam diri mereka bukan dengan paksaan dan ambisi dari orang tua. Karena setiap anak adalah spesial.


Jumat, 06 Maret 2020


TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN PADA MANUSIA



Oleh : Arobi dan M. Dzaky Darajatun

Manusia adalah makhluk yang terus mengalami perubahan usia, mulai dari alam kandungan, infansi, bayi, kanak-kanak, remaja, sampai usia dewasa dan akhirnya meninggal. Setiap tahapan kehidupan manusia mempengaruhi tahapan kehidupan selanjutnya baik dari aspek psikologis diantaranya agama, kognitif, bahasa, moral, sosial, dan aspek fisiologis, diantaranya fisik, motorik anak.
Oke, sebelum membahas tentang tugas-tugas perkembangan, disini kami ingin memaparkan terlebih dahulu mengenai pengertian perkembangan, tujuan mempelajari psikologi perkembangan, aspek-aspek perkembangan, periodisasi rentang kehidupan, prinsip-prinsip perkembangan, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan, pengertian tugas perkembangan, sumber serta perkembangan setiap fase.

A.           Pengertian Perkembangan
Salah satu kajian dalam psikologi perkembangan adalah isu perkembangan, yakni pertama perubahan kualitatif yang sering disebut dengan perkembangan, sedangkan perubahan kuantitatif sering disebut dengan pertumbuhan. Persoalan yang menjadi topik bahasan psikologi adalah perubahan kualitatif atau perkembangan, sebab hal itu terkait dengan fungsi struktur kejiwaan yang kompleks beserta dinamika prosesnya, meskipun disadari bahwa pertumbuhan fisik sedikit banyak berkorelasi dengan perkembangan psikis. Perkembangan dapat diartikan sebagai “perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Pengertian lain dari perkembangan adalah “perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah). Maksud dari sistematis adalah perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian–bagian organisme (fisik & psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis, progesif yaitu perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, dan mendalam baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis), dan berkesinambungan merupakan perubahan pada bagian atau fungsi organisme berlangsung secara beraturan.
Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending process) artinya manusia secara terus menerus berkembang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar.

B.            Tujuan Mempelajari Psikologi Perkembangan
Mempelajari perkembangan manusia memiliki 4 (empat) tujuan, yaitu untuk memberikan gambaran, penjelasan, peramalan, dan intervensi (Papalia dkk., 2009). Ketika kita mengatakan bahwa si Harin sudah dapat berjalan di usia 10 bulan, Akhtar, yang berusia 3,5 tahun sering memukul teman di kelas, Ana belum bisa bicara hingga usia 4 tahun, berarti kita sedang memberikan gambaran tentang perkembangan anak-anak tersebut. Selanjutnya, ketika kita mencoba mencari tahu mengapa Harin sudah bisa berjalan di usia 10 bulan, mengapa Akhtar sering memukul teman di kelas, atau mengapa Ana belum bisa bicara di usianya yang ke-4, kita sedang memberikan penjelasan dari perkembangan yang terjadi pada anak-anak itu. Dari gambaran dan penjelasan yang didapat, kita pun dapat membuat peramalan. Misalnya, Ana diprediksi akan memiliki masalah dalam bidang akademik nantinya. Atau Akhtar diprediksi dapat menjadi anak yang oposisional jika perilakunya tidak segera ditangani. Pada akhirnya, dengan mempelajari perkembangan manusia, kita dapat mengupayakan intervensi yang tepat, sehingga anak dapat berkembang dengan optimal. Misalnya, menganjurkan Akhtar untuk mengikuti terapi modifikasi perilaku untuk menurunkan perilaku agresifnya atau menganjurkan Ana untuk mengikuti terapi wicara serta pemeriksaan lebih lanjut ke psikolog.

C.           Aspek-aspek Perkembangan
Perkembangan sebenarnya tidak terjadi dalam kotak yang terpisah-pisah namun untuk menyederhanakan dan mempermudah pembahasan, perkembangan sering dibagi ke dalam beberapa aspek. Sebagai contoh, Dodge, Colker, dan Heroman (2002) membagi area perkembangan ke dalam empat aspek, yaitu aspek sosialemosional, aspek fisik, aspek kognitif, dan aspek bahasa. Secara umum, para ahli perkembangan sering membagi aspek-aspek tersebut ke dalam tiga area besar, dengan istilah yang berbeda-beda. Berk (2009) membaginya menjadi aspek fisik, kognitif, serta emosional dan sosial. Hal itu juga kurang lebih serupa dengan Papalia dkk. (2009) yang membagi aspek-aspek perkembangan ke dalam aspek fisik, kognitif, dan psikososial.
Pembagian aspek ke dalam jumlah yang lebih sedikit bukan berarti meniadakan beberapa aspek yang sebelumnya telah disebutkan. Aspek fisik berkaitan dengan pertumbuhan tubuh dan otak, kapasitas sensoris, keterampilan motor, dan kesehatan. Aspek kognitif mempelajari atensi, memori, pemecahan masalah, proses berpikir, penalaran --termasuk di dalamnya penalaran moral--, kreativitas, dan bahasa. Aspek psikososial meliputi perkembangan emosi, kepribadian, dan hubungan sosial.

D.           Periode Rentang Kehidupan
Pembagian rentang kehidupan ke dalam sejumlah periode merupakan suatu konstruksi sosial (Papalia dkk., 2009). Artinya, pembagian tersebut dibuat oleh suatu budaya atau masyarakat tertentu. Hal itu dapat dilihat dari adanya berbagai pembagian rentang kehidupan dari waktu ke waktu dan dari budaya ke budaya.
Dalam masyarakat Barat, periode rentang kehidupan dibagi ke dalam delapan periode (Papalia dkk., 2009), yang meliputi periode pranatal, bayi dan toddler, kanak-kanak awal, usia sekolah, remaja, dewasa muda, dewasa madya, dan dewasa akhir. Terkait dengan perkembangan anak, berikut ini akan diuraikan secara khusus perkembangan anak dari masa pranatal hingga remaja (Berk, 2009, Santrock, 2009, Papalia dkk., 2009).

1.             Periode Pranatal : dari konsepsi hingga lahir. Periode ini berlangsung kurang lebih sembilan bulan di dalam kandungan. Pada periode ini, perkembangan berlangsung paling cepat, diawali dari satu sel organisme hingga berkembang menjadi janin dengan kapasitas-kapasitas yang penting untuk menyesuaikan diri dengan dunia di sekitarnya.
2.             Periode bayi dan toddler : dari lahir hingga usia 18 – 24 bulan. Periode bayi adalah masa ketika seseorang tergantung secara ekstrim pada orang dewasa untuk pemenuhan kebutuhan dasarnya, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan afeksi. Pada masa ini ikatan yang erat dengan orang lain terbentuk untuk pertama kali. Periode bayi berlangsung kurang lebih selama satu tahun pertama kehidupan. Masa selanjutnya, disebut sebagai rentang periode toddler. Pada periode ini, seorang anak mulai mengembangkan otonomi sejalan dengan kemampuannya untuk berbicara dan melakukan mobilitas. Bagaimanapun mereka tetap membutuhkan orang tua dan pengasuh untuk menyediakan lingkungan yang aman bagi mereka dalam melakukan berbagai hal.
3.             Periode kanak-kanak awal : berlangsung sekitar usia 2 hingga 6 tahun. Periode kanak-kanak awal sering pula disebut sebagai periode prasekolah. Pada periode ini tubuh menjadi lebih panjang dan lebih ramping. Keterampilan motor juga menjadi lebih baik. Anak-anak pada periode ini lebih mampu mengontrol diri dan mengurus dirinya sendiri. Mereka juga m engembangkan keterampilan kesiapan sekolah (seperti kemampuan mengikuti instruksi, mengenal huruf), dan menghabiskan banyak waktunya untuk bermain bersama teman. Hal tersebut didukung pula oleh perkembangan berpikir dan bahasa yang luar biasa pada masa ini.
4.             Periode usia sekolah : berlangsung sekitar usia 6 hingga 11 tahun. Pada periode ini anak-anak belajar tentang lingkungan yang lebih luas dan menguasai tanggung jawab baru yang menyerupai tanggung jawab orang dewasa. Keutamaan dari periode ini adalah meningkatnya kemampuan atletik, partisipasi dalam permainan yang memiliki aturan, proses berpikir yang lebih logis, penguasaan keterampilan dasar membaca, menulis, dan berhitung serta kemajuan dalam pemahaman diri, moralitas, dan hubungan persahabatan.
5.             Periode remaja: berlangsung sekitar usia 11 hingga 18 tahun. Periode ini mengawali transisi ke masa dewasa. Pubertas mengarah pada ukuran tubuh orang dewasa dan kematangan seksual. Perubahan fisik berlangsung pesat. Berpikir menjadi lebih abstrak dan idealis. Sekolah mengarah pada persiapan pendidikan di bangku kuliah dan dunia kerja. Remaja juga mulai membangun kemandirian dari keluarga dan mulai menetapkan nilai-nilai dan tujuan pribadi. Tugas perkembangan utama pada masa ini adalah pencapaian identitas.

E.            Prinsip-prinsip Perkembangan
Baltes, dkk. (dalam Papalia, dkk., 2009) mengidentifikasi tujuh prinsip kunci tentang pendekatan perkembangan sepanjang hidup. Prinsip-prinsip tersebut menjadi kerangka konseptual untuk mempelajari perkembangan sepanjang hidup.

1.             Development is Lifelong
Perkembangan adalah proses perubahan sepanjang hidup. Setiap periode dari rentang kehidupan dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada periode sebelumnya dan apa yang terjadi saat ini akan pula mempengaruhi apa yang akan terjadi kemudian. Sebagai contoh, memiliki orang tua yang responsif dan sensitif dapat mengembangkan rasa percaya (trust) pada bayi. Rasa percaya ini selanjutnya akan membantu si bayi pada masa kanak-kanak untuk dapat bersosialisasi dengan baik. Berkaitan dengan periode perkembangan dapat dikatakan bahwa setiap periode memiliki karakteristik dan nilai yang unik sehingga tidak ada satu periode pun yang lebih atau kurang penting daripada periode yang lainnya.
2.             Development is Multidimensional
Perkembangan berlangsung dalam banyak dimensi (multidimensional). Maksudnya, perkembangan terjadi pada dimensi biologis, psikologis, dan sosial. Setiap dimensi dapat berkembang dalam derajat yang bervariasi, misalnya seorang anak berusia 4 tahun yang sangat cerdas, belum tentu memiliki kematangan emosi pada tingkat yang seimbang dengan kecerdasannya.
3.             Development is Multidirectional
Perkembangan berlangsung dalam lebih dari satu arah (multidirectional). Sejalan dengan meningkatnya kemampuan di satu area, seseorang mungkin akan mengalami penurunan dalam area yang lain dalam waktu yang bersamaan. Anak-anak kebanyakan tumbuh dalam satu arah, yaitu ke arah peningkatan, baik dalam ukuran maupun kemampuan. Remaja, secara khusus, mengalami peningkatan dalam kemampuan fisik, tetapi kecakapannya dalam belajar bahasa mengalami penurunan. Manusia belajar untuk memaksimalkan hal-hal yang dapat ditingkatkan dan meminimalkan penurunan dengan cara belajar mengelola atau mengompensasi hal-hal tersebut. Sebagai contoh, seorang atlet yang sudah tua dan tidak sanggup lagi berlari kencang mungkin akan memilih untuk menjadi pelatih atau penulis buku olahraga.
4.             Relative Influences of Biology and Culture Shift Over the Life Span
Proses perkembangan dipengaruhi oleh faktor biologis dan budaya. Keseimbangan di antara kedua pengaruh tersebut berubah sepanjang waktu. Pengaruh biologis, seperti ketajaman sensoris dan memori, menurun sejalan dengan bertambahnya usia. Akan tetapi, dukungan budaya, seperti penemuan kacamata dan buku agenda, dapat mengompensasi penurunan yang terjadi.
5.             Development Involves Changing Resource Allocations
Seseorang dapat mengalokasikan sumber-sumber yang ada, seperti waktu, energi, talenta, uang, dan dukungan sosial dalam cara yang beragam. Pertama, sumber-sumber tersebut mungkin digunakan untuk pertumbuhan. Sebagai contoh, seseorang mungkin menggunakan waktu dan uang yang dimilikinya untuk belajar berenang. Kedua, sumber tersebut digunakan untuk memelihara atau memperbaiki diri, misalnya seseorang yang belajar bermain piano supaya bakat musiknya tidak hilang atau seorang anak yang menggunakan waktunya untuk mengikuti kursus bahasa Perancis sepulangnya ia dari Perancis selama beberapa tahun.
6.             Development Shows Plasticity
Banyak kemampuan dapat ditingkatkan melalui latihan. Misalnya, anak-anak yang mengalami kesulitan untuk membaca dan menulis, dapat dilatih dengan mengikuti program remedial.
7.             Development is Influenced by the Historical and Cultural Context
Manusia tidak hanya mempengaruhi tetapi juga dipengaruhi oleh konteks sejarah dan budayanya. Sebagai contoh, seorang anak yang terbiasa hidup bebas, mungkin akan memberontak saat berada di lingkungan yang penuh dengan keteraturan.

F.            Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
Selain adanya proses yang bersifat universal dalam perkembangan, setiap orang juga memiliki perbedaan individual. Perbedaan-perbedaan tersebut akan mempengaruhi perkembangan dan hasil perkembangan. Sebagai contoh, manusia bisa berbeda dalam jenis kelamin, tinggi dan berat badan, kesehatan dan tingkat energi, inteligensi, kepribadian, temperamen, dan reaksi emosional. Konteks di mana seseorang tinggal juga berbeda, seperti rumah, masyarakat tempat kita tinggal, hubungan yang kita punya, jenis sekolah yang dimasuki, serta cara seseorang menggunakan waktu luang (Papalia, dkk., 2009).
a.              Keturunan (nature), yaitu sifat bawaan dari orang tua biologis. Misalnya, kecerdasan dan watak.
b.             Lingkungan (nurture), yaitu tempat dan kondisi sosial dimana individu tumbuh dan berkembang.
c.              Kematangan yaitu kesiapan individu untuk menguasai keterampilan baru. Misalnya, kematangan otak dan tubuh pada fase-fase awal, sehingga mempunyai kemampuan untuk berjalan dan berbicara.

G.           Pengertian Tugas Perkembangan
Menurut Havighurst (1961) mengartikan tugas-tugas perkembangan sebagai “tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya, sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.”

H.           Sumber Faktor-faktor Perkembangan
1.             Kematangan fisik. Misalnya, belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki, belajar bertingkah laku, bergaul dengan jenis kelamin yang bebeda pada masa remaja karena kematangan organ-organ seksual.
2.             Tuntutan masyarakat secara kultural. Misalnya, belajar membaca, belajar menulis, belajar berhitung, dan belajar berorganisasi.
3.             Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri. Misalnya, memilih pekerjaan, memilih teman hidup.
4.             Tuntutan norma-norma agama. Misalnya, taat beribadah kepada Allah SWT, barbuat baik kepada sesama manusia.

I.              Tugas-Tugas Perkembangan Pada Setiap Fase Perkembangan
1.             Tugas-Tugas Perkembangan Pada Usia Bayi Dan Kanak-Kanak (0,0-6,0)
a.              Belajar berjalan. Belajar berjalan terjadi pada usia antara 9 sampai 15 bulan, pada usia ini tulang kaki, otot dan susunan syarafnya telah matang untuk belajar berjalan.
b.             Belajar memakan makanan padat . Hal ini terjadi pada tahun kedua, sistem alat-alat pencernaan makanan dan alat-alat pengunyah pada mulut telah matang untuk hal tersebut.
c.              Belajar berbicara, yaitu mengeluarkan suara yang berarti dan menyampaikannya kepada orang lain dengan perantaraan suara itu. Untuk itu, diperlukan kematangan otot-otot dan syaraf dari alat-alat bicara.
d.             Belajar buang air kecil dan buang air besar. Tugas ini dilakukan pada tempat dan waktu yang sesuai dengan norma masyarakat. Sebelum usia 4 tahun, anak pada umumnya belum dapat mengatasi (menahan) ngompol karena perkembangan syaraf yang mengatur pembuangan belum sempurna.
e.              Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. 

2.             Tugas-Tugas Perkembangan Pada Masa Sekolah (6,0-12,0)
a.              Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan. Pada masa sekolah anak sudah sampai pada taraf penguasaan otot, sehingga sudah dapat berbaris, melakukan senam pagi dan permainan-permainan ringan, seperti sepak bola, loncat tali, berenang, dan sebagainya.
b.             Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis. Hakikat tugas ini ialah (1) mengembangkan kebiasaan untuk memelihara badan, meliputi kebersihan, keselamatan diri, dan kesehatan; (2) mengembangkan sikap positif terhadap jenis kelaminnya (pria atau wanita) dan juga menerima dirinya (baik rupa wajahnya maupun postur tubuhnya) secara positif.
c.              Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya. Yakni belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru serta teman-teman sebayanya. Pergaulan anak di Indonesia atau teman sebayanya mungkin diwarnai perasaan senang, karena secara kebetulan temannya berbudi baik, tetapi mungkin juga diwarnai oleh perasaan tidak senang karena teman sepermainannya suka mengganggu atau nakal.

3.                        Tugas-Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja (12,0-18,0)


a.           Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.
Hakikat tugasnya, belajar melihat kenyataan, anak wanita sebagai wanita, dan anak pria sebagai pria, berkembang menjadi orang dewasa di antara orang dewasa lainnya, belajar bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama, dan belajar memimpin orang lain tanpa mendominasinya.
b.             Mencapai peran sosial sebagai pria dan wanita.
Hakikat tugasnya, remaja dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
c.              Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.
Hakikat tugasnya, tugas ini bertujuan agak remaja merasa bangga, atau bersikap toleran terhadap fisiknya, menggunakan dan meemlihara fisiknya secara efektif, dan merasa puas dengan fisiknya tersebut.
d.             Memilih dan mempersiapkan karier (pekerjaan).
Hakikat tugasnya, memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, dan mempersiapkan diri-memiliki pengetahuan dan keterampilan- untuk memasuki pekerjaan tersebut.

4.                         Tugas-Tugas Perkembangan Pada Masa Dewasa


Havinghurts membagi kehidupan masa dewasa tersebut atas tiga fase, yaitu: dewasa muda, dewasa, usia lanjut. Yaitu:
a.              Tugas-tugas Perkembangan Masa Dewasa muda
1. Memilih pasangan hidup.
2. Belajar hidup bersama pasangan hidup
3. Memulai hidup berkeluarga
4. Memelihara dan mendidik anak.
5. Mengelola rumah tangga.
6. Memulai kegiatan pekerjaan.
7. Bertanggung jawab sebagai warga masyarakat dan warga negara
8. Menemukan persahabatan dalam kelompok sosial.

b.             Tugas-tugas Perkembangan Masa Dewasa
1. Memiliki tanggung jawab sosial dan kenegaraan sebagai orang dewasa.
2. Mengembangkan dan memelihara standar kehidupan ekonomi.
3. Membimbing anak dan remaja agar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia.
4. Mengembangkan kegiatan-kegiatan waktu senggang sebagai orang dewasa, hubungan dengan pasangan-pasangan keluarga lain sebagai pribadi.
5. Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisik sebagai orang setengah baya.
6. Menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai orang tua yang bertambah tua.

c.              Tugas-tugas perkembangan pada masa usia lanjut
1. Menyesuaikan diri dengan kondisi fisik dan kesehatan yang semakin menurun.
2. Menyesuaikan diri dengan situasi pensiun dan penghasilan yang semakin berkurang.
3. Menyesuaikan diri dengan kematian dari pasangan hidup.
4. Membina hubungan dengan sesama usia lanjut.
5. Memenuhi kewajiban-kewajiban sosial dan kenegaraan.
6. Memelihara kondisi dan kesehatan.
7. Kesiapan menghadapi kematian.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Nasikh Ulwan, Tarbiyatul al-Aulad fi al-Islam, (Beirut: Dar al-Salam, 1981),
Abdur Razak Husain, Hak dan Pendidikan Anak Dalam Islam, (Semarang: Fikahati Aneska,
          .t.), hlm. 62.
Bakir Yusuf Barmawi, Pembinaan Kehidupan Beragama Islam Pada Anak, (Semarang: Dina
           Utama, 1993), hlm. 5.
Havighurst Hurlock, psikologi Perkembang Sepanjang Rentang Kehidupan
Imam Ahmad al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, Juz VII, (Beirut: Dar al-Fikr, 1980), hlm.130.
Usman Nadjati, The Ultimate Psychology ala Rasululllah SAW, Usman Najati, The Ultimate
           Psychology, (Pustaka Hidayah, Bandung) hal 166.
Dodge, D.T., Colker, L.J., & Heroman, C. (2002). The Creative Curriculum for Preschool.   
           4th Ed. Washington, D.C.: Teaching Strategies, Inc.
Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman, R.D. (2009). Human Development. 11th Ed. New 
           York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Parke, R.D. & Gauvain, M. (2009). Child Psychology: A Contemporary Viewpoint. 7th ed.   
           Singapore: McGraw-Hill.
Pusat Kurikulum, Balitbang, Depdiknas. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi Anak Usia   Dini. Jakarta: Pusat Kurikulum.