TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN PADA
MANUSIA
Oleh : Arobi dan M. Dzaky Darajatun
Manusia adalah makhluk yang terus
mengalami perubahan usia, mulai dari alam kandungan, infansi, bayi,
kanak-kanak, remaja, sampai usia dewasa dan akhirnya meninggal. Setiap tahapan
kehidupan manusia mempengaruhi tahapan kehidupan selanjutnya baik dari aspek
psikologis diantaranya agama, kognitif, bahasa, moral, sosial, dan aspek
fisiologis, diantaranya fisik, motorik anak.
Oke, sebelum membahas tentang
tugas-tugas perkembangan, disini kami ingin memaparkan terlebih dahulu mengenai
pengertian perkembangan, tujuan mempelajari psikologi
perkembangan, aspek-aspek perkembangan, periodisasi rentang kehidupan,
prinsip-prinsip perkembangan, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan, pengertian
tugas perkembangan, sumber serta perkembangan setiap fase.
A.
Pengertian
Perkembangan
Salah satu kajian dalam
psikologi perkembangan adalah isu perkembangan, yakni pertama perubahan
kualitatif yang sering disebut dengan perkembangan, sedangkan perubahan
kuantitatif sering disebut dengan pertumbuhan. Persoalan yang menjadi topik
bahasan psikologi adalah perubahan kualitatif atau perkembangan, sebab hal itu
terkait dengan fungsi struktur kejiwaan yang kompleks beserta dinamika
prosesnya, meskipun disadari bahwa pertumbuhan fisik sedikit banyak berkorelasi
dengan perkembangan psikis. Perkembangan dapat diartikan sebagai “perubahan
yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai
lahir sampai mati. Pengertian lain dari perkembangan adalah
“perubahan-perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat
kedewasaannya atau kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif
dan berkesinambungan baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis
(rohaniah). Maksud dari sistematis adalah perubahan dalam perkembangan itu
bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara bagian–bagian
organisme (fisik & psikis) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis,
progesif yaitu perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, dan mendalam
baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis), dan berkesinambungan
merupakan perubahan pada bagian atau fungsi organisme berlangsung secara beraturan.
Perkembangan merupakan
proses yang tidak pernah berhenti (never ending process) artinya manusia
secara terus menerus berkembang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar.
B.
Tujuan Mempelajari Psikologi Perkembangan
Mempelajari
perkembangan manusia memiliki 4 (empat) tujuan, yaitu untuk memberikan gambaran,
penjelasan, peramalan, dan intervensi (Papalia dkk., 2009). Ketika
kita mengatakan bahwa si Harin sudah dapat berjalan di usia 10 bulan, Akhtar,
yang berusia 3,5 tahun sering memukul teman di kelas, Ana belum bisa bicara
hingga usia 4 tahun, berarti kita sedang memberikan gambaran tentang
perkembangan anak-anak tersebut. Selanjutnya, ketika kita mencoba mencari tahu
mengapa Harin sudah bisa berjalan di usia 10 bulan, mengapa Akhtar sering
memukul teman di kelas, atau mengapa Ana belum bisa bicara di usianya yang
ke-4, kita sedang memberikan penjelasan dari perkembangan yang terjadi pada
anak-anak itu. Dari gambaran dan penjelasan yang didapat, kita pun dapat
membuat peramalan. Misalnya, Ana diprediksi akan memiliki masalah dalam bidang
akademik nantinya. Atau Akhtar diprediksi dapat menjadi anak yang oposisional
jika perilakunya tidak segera ditangani. Pada akhirnya, dengan mempelajari
perkembangan manusia, kita dapat mengupayakan intervensi yang tepat, sehingga
anak dapat berkembang dengan optimal. Misalnya, menganjurkan Akhtar untuk
mengikuti terapi modifikasi perilaku untuk menurunkan perilaku agresifnya atau
menganjurkan Ana untuk mengikuti terapi wicara serta pemeriksaan lebih lanjut
ke psikolog.
C.
Aspek-aspek Perkembangan
Perkembangan sebenarnya tidak terjadi dalam kotak yang
terpisah-pisah namun untuk menyederhanakan dan mempermudah pembahasan,
perkembangan sering dibagi ke dalam beberapa aspek. Sebagai contoh, Dodge,
Colker, dan Heroman (2002) membagi area perkembangan ke dalam empat aspek,
yaitu aspek sosialemosional, aspek fisik, aspek kognitif, dan aspek bahasa. Secara
umum, para ahli perkembangan sering membagi aspek-aspek tersebut ke dalam tiga
area besar, dengan istilah yang berbeda-beda. Berk (2009) membaginya menjadi
aspek fisik, kognitif, serta emosional dan sosial. Hal itu juga kurang lebih
serupa dengan Papalia dkk. (2009) yang membagi aspek-aspek perkembangan ke
dalam aspek fisik, kognitif, dan psikososial.
Pembagian
aspek ke dalam jumlah yang lebih sedikit bukan berarti meniadakan beberapa
aspek yang sebelumnya telah disebutkan. Aspek fisik berkaitan dengan
pertumbuhan tubuh dan otak, kapasitas sensoris, keterampilan motor, dan
kesehatan. Aspek kognitif mempelajari atensi, memori, pemecahan masalah, proses
berpikir, penalaran --termasuk di dalamnya penalaran moral--, kreativitas, dan
bahasa. Aspek psikososial meliputi perkembangan emosi, kepribadian, dan
hubungan sosial.
D.
Periode Rentang Kehidupan
Pembagian rentang kehidupan ke dalam sejumlah periode merupakan
suatu konstruksi sosial (Papalia dkk., 2009). Artinya, pembagian tersebut
dibuat oleh suatu budaya atau masyarakat tertentu. Hal itu dapat dilihat dari
adanya berbagai pembagian rentang kehidupan dari waktu ke waktu dan dari budaya
ke budaya.
Dalam masyarakat Barat, periode rentang kehidupan dibagi ke dalam
delapan periode (Papalia dkk., 2009), yang meliputi periode pranatal, bayi dan toddler,
kanak-kanak awal, usia sekolah, remaja, dewasa muda, dewasa madya, dan dewasa
akhir. Terkait dengan perkembangan anak, berikut ini akan diuraikan secara
khusus perkembangan anak dari masa pranatal hingga remaja (Berk, 2009,
Santrock, 2009, Papalia dkk., 2009).
1.
Periode
Pranatal : dari konsepsi hingga lahir. Periode
ini berlangsung kurang lebih sembilan bulan di dalam kandungan. Pada periode
ini, perkembangan berlangsung paling cepat, diawali dari satu sel organisme
hingga berkembang menjadi janin dengan kapasitas-kapasitas yang penting untuk
menyesuaikan diri dengan dunia di sekitarnya.
2.
Periode
bayi dan toddler : dari lahir hingga usia 18 – 24 bulan. Periode bayi adalah masa ketika seseorang tergantung secara
ekstrim pada orang dewasa untuk pemenuhan kebutuhan dasarnya, seperti makanan,
pakaian, tempat tinggal, dan afeksi. Pada masa ini ikatan yang erat dengan
orang lain terbentuk untuk pertama kali. Periode bayi berlangsung kurang lebih
selama satu tahun pertama kehidupan. Masa selanjutnya, disebut sebagai rentang
periode toddler. Pada periode ini, seorang anak mulai mengembangkan
otonomi sejalan dengan kemampuannya untuk berbicara dan melakukan mobilitas.
Bagaimanapun mereka tetap membutuhkan orang tua dan pengasuh untuk menyediakan
lingkungan yang aman bagi mereka dalam melakukan berbagai hal.
3.
Periode
kanak-kanak awal : berlangsung sekitar usia 2 hingga 6 tahun. Periode kanak-kanak awal sering pula disebut sebagai periode
prasekolah. Pada periode ini tubuh menjadi lebih panjang dan
lebih ramping. Keterampilan motor juga menjadi lebih baik. Anak-anak pada
periode ini lebih mampu mengontrol diri dan mengurus dirinya sendiri. Mereka
juga m engembangkan
keterampilan kesiapan sekolah (seperti kemampuan mengikuti instruksi, mengenal
huruf), dan menghabiskan banyak waktunya untuk bermain bersama teman. Hal
tersebut didukung pula oleh perkembangan berpikir dan bahasa yang luar biasa
pada masa ini.
4.
Periode
usia sekolah : berlangsung sekitar usia 6 hingga 11 tahun. Pada periode ini anak-anak belajar tentang lingkungan yang lebih
luas dan menguasai tanggung jawab baru yang menyerupai tanggung jawab orang
dewasa. Keutamaan dari periode ini adalah meningkatnya kemampuan atletik,
partisipasi dalam permainan yang memiliki aturan, proses berpikir yang lebih
logis, penguasaan keterampilan dasar membaca, menulis, dan berhitung serta
kemajuan dalam pemahaman diri, moralitas, dan hubungan persahabatan.
5.
Periode
remaja: berlangsung sekitar usia 11 hingga 18 tahun. Periode ini mengawali transisi ke masa dewasa. Pubertas mengarah
pada ukuran tubuh orang dewasa dan kematangan seksual. Perubahan fisik
berlangsung pesat. Berpikir menjadi lebih abstrak dan idealis. Sekolah mengarah
pada persiapan pendidikan di bangku kuliah dan dunia kerja. Remaja juga mulai
membangun kemandirian dari keluarga dan mulai menetapkan nilai-nilai dan tujuan
pribadi. Tugas perkembangan utama pada masa ini adalah pencapaian identitas.
E.
Prinsip-prinsip Perkembangan
Baltes, dkk. (dalam Papalia, dkk., 2009) mengidentifikasi
tujuh prinsip kunci tentang pendekatan perkembangan sepanjang hidup.
Prinsip-prinsip tersebut menjadi kerangka konseptual untuk mempelajari
perkembangan sepanjang hidup.
1.
Development
is Lifelong
Perkembangan
adalah proses perubahan sepanjang hidup. Setiap periode dari rentang kehidupan
dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada periode sebelumnya dan apa yang terjadi
saat ini akan pula mempengaruhi apa yang akan terjadi kemudian. Sebagai contoh,
memiliki orang tua yang responsif dan sensitif dapat mengembangkan rasa percaya
(trust) pada bayi. Rasa percaya ini selanjutnya akan membantu si bayi
pada masa kanak-kanak untuk dapat bersosialisasi dengan baik. Berkaitan dengan
periode perkembangan dapat dikatakan bahwa setiap periode memiliki
karakteristik dan nilai yang unik sehingga tidak ada satu periode pun yang
lebih atau kurang penting daripada periode yang lainnya.
2.
Development
is Multidimensional
Perkembangan berlangsung dalam banyak dimensi (multidimensional).
Maksudnya, perkembangan terjadi pada dimensi biologis, psikologis, dan sosial.
Setiap dimensi dapat berkembang dalam derajat yang bervariasi, misalnya seorang
anak berusia 4 tahun yang sangat cerdas, belum tentu memiliki kematangan emosi
pada tingkat yang seimbang dengan kecerdasannya.
3.
Development
is Multidirectional
Perkembangan berlangsung dalam lebih dari satu arah (multidirectional).
Sejalan dengan meningkatnya kemampuan di satu area, seseorang mungkin akan
mengalami penurunan dalam area yang lain dalam waktu yang bersamaan. Anak-anak
kebanyakan tumbuh dalam satu arah, yaitu ke arah peningkatan, baik dalam ukuran
maupun kemampuan. Remaja, secara khusus, mengalami peningkatan dalam kemampuan
fisik, tetapi kecakapannya dalam belajar bahasa mengalami penurunan. Manusia
belajar untuk memaksimalkan hal-hal yang dapat ditingkatkan dan meminimalkan
penurunan dengan cara belajar mengelola atau mengompensasi hal-hal tersebut.
Sebagai contoh, seorang atlet yang sudah tua dan tidak sanggup lagi berlari
kencang mungkin akan memilih untuk menjadi pelatih atau penulis buku olahraga.
4.
Relative
Influences of Biology and Culture Shift Over the Life Span
Proses perkembangan dipengaruhi oleh faktor biologis dan budaya.
Keseimbangan di antara kedua pengaruh tersebut berubah sepanjang waktu.
Pengaruh biologis, seperti ketajaman sensoris dan memori, menurun sejalan dengan
bertambahnya usia. Akan tetapi, dukungan budaya, seperti penemuan kacamata dan
buku agenda, dapat mengompensasi penurunan yang terjadi.
5.
Development
Involves Changing Resource Allocations
Seseorang
dapat mengalokasikan sumber-sumber yang ada, seperti waktu, energi, talenta,
uang, dan dukungan sosial dalam cara yang beragam. Pertama,
sumber-sumber tersebut mungkin digunakan untuk pertumbuhan. Sebagai contoh,
seseorang mungkin menggunakan waktu dan uang yang dimilikinya untuk belajar
berenang. Kedua, sumber tersebut digunakan untuk memelihara atau
memperbaiki diri, misalnya seseorang yang belajar bermain piano supaya bakat
musiknya tidak hilang atau seorang anak yang menggunakan waktunya untuk
mengikuti kursus bahasa Perancis sepulangnya ia dari Perancis selama beberapa
tahun.
6.
Development
Shows Plasticity
Banyak
kemampuan dapat ditingkatkan melalui latihan. Misalnya, anak-anak yang
mengalami kesulitan untuk membaca dan menulis, dapat dilatih dengan mengikuti
program remedial.
7.
Development
is Influenced by the Historical and Cultural Context
Manusia tidak hanya
mempengaruhi tetapi juga dipengaruhi oleh konteks sejarah dan budayanya.
Sebagai contoh, seorang anak yang terbiasa hidup bebas, mungkin akan
memberontak saat berada di lingkungan yang penuh dengan keteraturan.
F.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
Selain adanya proses
yang bersifat universal dalam perkembangan, setiap orang juga memiliki
perbedaan individual. Perbedaan-perbedaan tersebut akan mempengaruhi perkembangan
dan hasil perkembangan. Sebagai contoh, manusia bisa berbeda dalam jenis
kelamin, tinggi dan berat badan, kesehatan dan tingkat energi, inteligensi,
kepribadian, temperamen, dan reaksi emosional. Konteks di mana seseorang
tinggal juga berbeda, seperti rumah, masyarakat tempat kita tinggal, hubungan
yang kita punya, jenis sekolah yang dimasuki, serta cara seseorang menggunakan
waktu luang (Papalia, dkk., 2009).
a.
Keturunan
(nature), yaitu sifat bawaan dari orang tua biologis. Misalnya, kecerdasan dan
watak.
b.
Lingkungan
(nurture), yaitu tempat dan kondisi sosial dimana individu tumbuh dan
berkembang.
c.
Kematangan yaitu
kesiapan individu untuk menguasai keterampilan baru. Misalnya, kematangan otak
dan tubuh pada fase-fase awal, sehingga mempunyai kemampuan untuk berjalan dan
berbicara.
G.
Pengertian
Tugas Perkembangan
Menurut Havighurst (1961)
mengartikan tugas-tugas perkembangan sebagai “tugas yang muncul pada periode
tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat
berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan
tugas berikutnya, sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan
ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan
masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.”
H.
Sumber Faktor-faktor Perkembangan
1.
Kematangan fisik. Misalnya, belajar berjalan karena
kematangan otot-otot kaki, belajar bertingkah laku, bergaul dengan jenis
kelamin yang bebeda pada masa remaja karena kematangan organ-organ seksual.
2.
Tuntutan masyarakat secara kultural. Misalnya, belajar
membaca, belajar menulis, belajar berhitung, dan belajar berorganisasi.
3.
Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri.
Misalnya, memilih pekerjaan, memilih teman hidup.
4.
Tuntutan norma-norma agama. Misalnya, taat beribadah kepada
Allah SWT, barbuat baik kepada sesama manusia.
I.
Tugas-Tugas Perkembangan Pada Setiap Fase
Perkembangan
1.
Tugas-Tugas Perkembangan Pada Usia Bayi Dan Kanak-Kanak
(0,0-6,0)
a.
Belajar berjalan. Belajar berjalan terjadi pada usia antara 9
sampai 15 bulan, pada usia ini tulang kaki, otot dan susunan syarafnya telah
matang untuk belajar berjalan.
b.
Belajar memakan makanan padat . Hal ini terjadi pada tahun
kedua, sistem alat-alat pencernaan makanan dan alat-alat pengunyah pada mulut
telah matang untuk hal tersebut.
c.
Belajar berbicara, yaitu mengeluarkan suara yang berarti dan
menyampaikannya kepada orang lain dengan perantaraan suara itu. Untuk itu,
diperlukan kematangan otot-otot dan syaraf dari alat-alat bicara.
d.
Belajar buang air kecil dan buang air besar. Tugas ini
dilakukan pada tempat dan waktu yang sesuai dengan norma masyarakat. Sebelum
usia 4 tahun, anak pada umumnya belum dapat mengatasi (menahan) ngompol karena
perkembangan syaraf yang mengatur pembuangan belum sempurna.
e.
Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.
2.
Tugas-Tugas Perkembangan Pada Masa Sekolah (6,0-12,0)
a.
Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan
permainan. Pada masa sekolah anak sudah sampai pada taraf penguasaan otot,
sehingga sudah dapat berbaris, melakukan senam pagi dan permainan-permainan
ringan, seperti sepak bola, loncat tali, berenang, dan sebagainya.
b.
Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai
makhluk biologis. Hakikat tugas ini ialah (1) mengembangkan kebiasaan untuk
memelihara badan, meliputi kebersihan, keselamatan diri, dan kesehatan; (2)
mengembangkan sikap positif terhadap jenis kelaminnya (pria atau wanita) dan
juga menerima dirinya (baik rupa wajahnya maupun postur tubuhnya) secara
positif.
c.
Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya. Yakni belajar
menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru serta teman-teman
sebayanya. Pergaulan anak di Indonesia atau teman sebayanya mungkin diwarnai
perasaan senang, karena secara kebetulan temannya berbudi baik, tetapi mungkin
juga diwarnai oleh perasaan tidak senang karena teman sepermainannya suka
mengganggu atau nakal.
3. Tugas-Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja (12,0-18,0)
a. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.
Hakikat tugasnya, belajar melihat kenyataan, anak wanita sebagai wanita, dan anak pria sebagai pria, berkembang menjadi orang dewasa di antara orang dewasa lainnya, belajar bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama, dan belajar memimpin orang lain tanpa mendominasinya.
Hakikat tugasnya, belajar melihat kenyataan, anak wanita sebagai wanita, dan anak pria sebagai pria, berkembang menjadi orang dewasa di antara orang dewasa lainnya, belajar bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama, dan belajar memimpin orang lain tanpa mendominasinya.
b.
Mencapai peran sosial sebagai pria dan wanita.
Hakikat tugasnya, remaja dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
Hakikat tugasnya, remaja dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
c.
Menerima keadaan fisik dan menggunakannya secara efektif.
Hakikat tugasnya, tugas ini bertujuan agak remaja merasa bangga, atau bersikap toleran terhadap fisiknya, menggunakan dan meemlihara fisiknya secara efektif, dan merasa puas dengan fisiknya tersebut.
Hakikat tugasnya, tugas ini bertujuan agak remaja merasa bangga, atau bersikap toleran terhadap fisiknya, menggunakan dan meemlihara fisiknya secara efektif, dan merasa puas dengan fisiknya tersebut.
d.
Memilih dan mempersiapkan karier (pekerjaan).
Hakikat tugasnya, memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, dan mempersiapkan diri-memiliki pengetahuan dan keterampilan- untuk memasuki pekerjaan tersebut.
Hakikat tugasnya, memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, dan mempersiapkan diri-memiliki pengetahuan dan keterampilan- untuk memasuki pekerjaan tersebut.
4. Tugas-Tugas Perkembangan Pada Masa Dewasa
Havinghurts
membagi kehidupan masa dewasa tersebut atas tiga fase, yaitu: dewasa muda,
dewasa, usia lanjut. Yaitu:
a.
Tugas-tugas Perkembangan Masa Dewasa muda
1. Memilih pasangan hidup.
2. Belajar hidup bersama pasangan hidup
3. Memulai hidup berkeluarga
4. Memelihara dan mendidik anak.
5. Mengelola rumah tangga.
6. Memulai kegiatan pekerjaan.
7. Bertanggung jawab sebagai warga masyarakat dan warga negara
8. Menemukan persahabatan dalam kelompok sosial.
1. Memilih pasangan hidup.
2. Belajar hidup bersama pasangan hidup
3. Memulai hidup berkeluarga
4. Memelihara dan mendidik anak.
5. Mengelola rumah tangga.
6. Memulai kegiatan pekerjaan.
7. Bertanggung jawab sebagai warga masyarakat dan warga negara
8. Menemukan persahabatan dalam kelompok sosial.
b.
Tugas-tugas Perkembangan Masa Dewasa
1. Memiliki tanggung jawab sosial dan kenegaraan sebagai orang dewasa.
2. Mengembangkan dan memelihara standar kehidupan ekonomi.
3. Membimbing anak dan remaja agar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia.
4. Mengembangkan kegiatan-kegiatan waktu senggang sebagai orang dewasa, hubungan dengan pasangan-pasangan keluarga lain sebagai pribadi.
5. Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisik sebagai orang setengah baya.
6. Menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai orang tua yang bertambah tua.
1. Memiliki tanggung jawab sosial dan kenegaraan sebagai orang dewasa.
2. Mengembangkan dan memelihara standar kehidupan ekonomi.
3. Membimbing anak dan remaja agar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia.
4. Mengembangkan kegiatan-kegiatan waktu senggang sebagai orang dewasa, hubungan dengan pasangan-pasangan keluarga lain sebagai pribadi.
5. Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisik sebagai orang setengah baya.
6. Menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai orang tua yang bertambah tua.
c.
Tugas-tugas perkembangan pada masa usia lanjut
1. Menyesuaikan diri dengan kondisi fisik dan kesehatan yang semakin menurun.
2. Menyesuaikan diri dengan situasi pensiun dan penghasilan yang semakin berkurang.
3. Menyesuaikan diri dengan kematian dari pasangan hidup.
4. Membina hubungan dengan sesama usia lanjut.
5. Memenuhi kewajiban-kewajiban sosial dan kenegaraan.
6. Memelihara kondisi dan kesehatan.
7. Kesiapan menghadapi kematian.
1. Menyesuaikan diri dengan kondisi fisik dan kesehatan yang semakin menurun.
2. Menyesuaikan diri dengan situasi pensiun dan penghasilan yang semakin berkurang.
3. Menyesuaikan diri dengan kematian dari pasangan hidup.
4. Membina hubungan dengan sesama usia lanjut.
5. Memenuhi kewajiban-kewajiban sosial dan kenegaraan.
6. Memelihara kondisi dan kesehatan.
7. Kesiapan menghadapi kematian.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Nasikh Ulwan, Tarbiyatul al-Aulad fi al-Islam, (Beirut: Dar al-Salam, 1981),
Abdur Razak Husain, Hak dan Pendidikan Anak Dalam Islam, (Semarang: Fikahati Aneska,
.t.), hlm. 62.
Bakir Yusuf Barmawi, Pembinaan Kehidupan Beragama Islam Pada Anak, (Semarang: Dina
Utama, 1993), hlm. 5.
Havighurst Hurlock, psikologi Perkembang Sepanjang Rentang Kehidupan
Imam Ahmad al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, Juz VII, (Beirut: Dar al-Fikr, 1980), hlm.130.
Usman Nadjati, The Ultimate Psychology ala Rasululllah SAW, Usman Najati, The Ultimate
Psychology, (Pustaka Hidayah, Bandung) hal 166.
Dodge, D.T., Colker, L.J., & Heroman, C. (2002). The Creative Curriculum for Preschool.
4th Ed. Washington, D.C.: Teaching Strategies, Inc.
Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman, R.D. (2009). Human Development. 11th Ed. New
York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Parke, R.D. & Gauvain, M. (2009). Child Psychology: A Contemporary Viewpoint. 7th ed.
Singapore: McGraw-Hill.
Pusat Kurikulum, Balitbang, Depdiknas. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi Anak Usia Dini. Jakarta: Pusat Kurikulum.

Bagus...! Lanjutkan
BalasHapus